Manusia adalah makhluk paling dinamis yang diciptakan oleh sang pencipta. Padanya derajat tertinggi disematkan dibandingkan ciptaannya yang laen seperti hewan, tumbuhan, batu dsb. Sebagai makhluk hidup yang dinamis dalam kehidupannya manusia membutuhkan sebuah identitas dalam dirinya, nantinya ini dipergunakan guna memperoleh nilai dalam kehidupan strata pergaulan bermasyarakat (kehidupan social). Identitas ini juga dipergunakan sebagai tanda pengenal yang mencerminkan tentang karakter seseorang. Identitas ini dapat berwujud lifestyle, karya ciptaan, atau dandanan. Misalkan seorang anak menato sekujur badan dan berdandan ala Mohican (subkultur), guna menunjukkan kalo dia merupakan bagian dari salah satu klan indie (underground).
Para ilmuan yang terus mencipta dengan karya agar dia dikenal oleh sejarah. Atau kehidupan glamour para pemuja dunia hedon buat nunjukin klo mereka kaum borju. Sama dengan hal tersebut selama dua hari, tanggal 08-09 november 07, waktu gw nonton berita yang diberitain, termasuk top news loh, tentang sekelompok anak muda yang doyan rame-rame berkumpul dan berarak (konvoi) dengan motor di daerah Bandung yang disebut dengan Geng Motor. Sebenarnya cerita anak-anak ini udah lama gw denger, dari cerita antar generasi yang nyampe ke gw kaya’nya anak-anak ini di bandung udah jadi legenda. Sangat sangar dan ditakuti. Bahkan seorang temen yang brasal dari Cibaduyut, bandung, pernah ngomong klo pas pulang tengah malam sendirian, yang ditakuti bukannya setan tapi justru Geng Motor. Korban mereka udah banyak, dari sasaran pengerusakan, pemukulan, ampe perampokan. Hingga tibalah saat itu, rekaman documenter dari kepolisian menyiarkan acara perpeloncoan sekaligus perekrutan anggota geng motor ini. Acaranya sudah bisa ditebak sangat kasar dan bernuansa jalanan. Ditendang, dipukul, merayap, ampe diadu berkelahi sesama temen plonco dan senior, adalah materi acara buat melatih mental dan kecakapan buat bekal ngerusak nanti. Buat intermezzo aja, anak-anak IPDN tergolong Geng Motor juga ngga ya…?..hihihi..couse they do a same activity. More violences…bahkan IPDN lebih parah ampe ada yang mati……Buat anak-anak IPDN salam ya ama rector/kepala sipirnya?. Indonesia berdiri sekarang mewarisi beragam macam kebudayaan. Kebudayaan dari masing-masing bangsa ini menjadi menjadi identitas tersendiri bagi mereka. Agak ngalor ngidul dikit boleh ya? Kebudayaan ini hal yang sangat sentisif…jangan coba-coba main-main dengannya…sangsinya sangat berat bahkan berpotensi nimbulin SARA klo loe lecehin…Kasus pembantaian bangsa Madura di kalimantan sana, dibumbui oleh ini, bahkan perang suku di Papua sana yang sering terjadi, juga dikarenakan karena ini yang dijadikan kompor-kompornya. Orde baru rupanya sangat memahami tentang karakteristik nusantara dengan baik. Untuk melanggengkan kekuasaannya benih-benih feudal dipupuk sedemikian seringnya, tujuannya biar jiwa feudal ini tumbuh subur tentu. Penyeragaman kurikulum sedari sekolah dasar adalah bukti konkrit dari itu. Dimedan buat belajar membaca di berikan contoh dengan “Budi pergi kepasar”, di Papua juga sama aja. Such…sejak kapan di Papua ada yang namanya Budi…pikiran dijejal-jejali dengan petuah-petuah bahwa para bangsawan adalah junjungan bagi setiap suku-suku yang bersangkutan…yang lebih tua adalah orang yang lebih tau (lihat iklan sampoerna mild…..hohoho), merupakan menu sarapan pagi sehari-hari…sampai kini malah… Alhasil jadilah, para bangsawan-bangsawan itu bebas melakukan apa yang disukainya. Rentang kesejahtraan social semakin jauh aja gepnya. Liat aja di jogja, kondisi okonomi sultan yang bergelimpang kemewahan, sementara para tetangganya, abdi-abdinya, hidup dalam rumah petak. Dan itu juga masih stastus numpang, karena tanah yang dipake buat tempat tinggal ternyata juga tanahnya sultan. Didimensi lain dengan esensi yang sama, namun kondisi berbeda dikampus-kampus para senior mempertontonkan ke aroganannya, diruang-ruang kelas dosen memposisikan diri bak dewa yang maha tau dan mahasiswa adalah sekumpulan kambing…. Hegemoni begitulah gramsky mendefinisikan….rekayasa genetic yang diberikan oleh ilmuan konservatif kepada masyarakat….memang ada dua hegemonic yang ditunjukkan oleh penguasa, klo mengadopsi pemikiran gramsky..dengan kekerasan dan non kekerasan..jalan non kekerasan adalah tingkatan tertinggi proses hegemonic ini….kondisi yang digambarkan oleh gramsky buat masyarakat Italia pada masanya, mereka menerima dengan suka rela, perlakuan semena-mena penguasa terhadap mereka…bahkan mereka justru akan merasa bersalah jika menentangnya… wow sebuah pembodohan yang sangat terstruktur…orde baru berhasil mempertahankannya selamam 32 tahun hah….sampai akhirnya tumbang oleh anak-anak muda yang terkenal Bengal dan keras kepala…hahaha….dalam skala luas Indonesia menujukkkan kepada dunia identitasnya dengan kondisi yang seperti itu. Sedangkan Geng motor, sebuah asumsi, bukan kebudayaan yang berakar dari tradisi local…pasti menganut dari tradisi luar…gw pernah nonton TV diamrik juga ada geng motor, lebih sangar malah, skuadnya badannya gede-gede banget, mana jenggot ama kumisnya bak hutan belantara lagi…..tapi motornya harley…..beda ama dikita..hehehee…Cuma gw ngga tau seperti apa kelakuan mereka disana kaya’ apa?...buat geng motor local kelakuan yang gw tengok dari rekaman berita udah kaya’ gangster di bronks aja…bikin rusuh seenaknya, ngerusak, bahkan sampe ada yang ngerampok segala…tujuannnya cuma satu biar mereka dikenal dan dihormati to’…hanya sekedar buat gagah-gagahan..klo ngeliat latar belakang dari teamnya…mereka kumpulan aanak-anak muda yang penganguran, broken home, dan kurang pendidikan. Jadi wajarnya klo terjadinya “shockculture”. Mengadopsi budaya baru yang bukan miliknya tanpa diketahui tujuannnya buat apa….bukan merupakan adaptasi, tapi ikut-ikutan…. Karena latar belakang hidupnya yang udah berantakan, anak-anak muda ini tentu udah dicap sampah oleh lingkungannya. Alhasil pelarian sekaligus mencari wadah biar mereka bisa dipandang sudah tentu akan dilakukan…asumsi juga mereka kemudian terinspirasi oleh prilaku bule-bule dari luar itu buat ngebentuk ato ngeciptain kondisi yang sama. Identitas baru lantas melekat atas diri mereka menggantikan identitas yang lama. Sama seperti negara kita yang terkenal makmur, gema ripah loh jinawi, dipertegas lagu koes plus yang bersyair tangkat batu bisa jadi tanaman..berubah menjadi Negara miskin yang punya banyak hutang….rela menggadaikan asset sumber daya asal bisa mendapatkan hutang dari luar…kalo dari skup terkecil udah jadi loser bisa dipastiin kejenjang atasnya juga akan menjadi loser…Bukan Cuma geng motor aja, kelompok-kelompok baru yang bikin resah masyarakat juga, banyak bermunculan. Kasus lain tentang kemunculan banyak aliran agama baru yang dicap sebagai i aliran sesat. Menambah daftar baru yang menceritakan kalo kondisi masyarakat sedang terombang-ambing dan kehilangan jati diri. Ini kondisi yang rawan, bak borok yang harus segera dituntaskan klo nggak pengen terancam nyawa… Perkuat materi gerak, dengan lebih banyak membaca dan berkreasi buat hal-hal yang positif benteng tanguh biar ngga’ ulalaa…..kerja keras dan doa, sebuah warisan para sepuh yang terbukti manjur lah…hehe….dari pada loh bikin yang aneh-aneh mending daftarin diri aja jadi badut ancol…..Anjing tai kucing, yang membela lubang pantat dengan darah…!!! (semiotika rajatega)…………. |